Kawah Putih, Jabar

on 16 April 2009










Gunung Patuha oleh masyarakat Ciwidey dianggap sebagai gunung yang tertua. Nama Patuha konon berasal dari kata Pak Tua (sepuh), sehingga masyarakat setempat seringkali menyebutnya dengan nama Gunung Sepuh.

Lebih dari seabad yang lalu, puncak Gunung Patuha dianggap angker oleh masyarakat setempat sehingga tak seorangpun berani menginjaknya. Oleh karena itu, keberadaan dan keindahannya pada saat tersebut tidak sempat diketahui orang. Gunung Patuha pernah meletus pada abad X sehingga menyebabkan adanya Kawah (crater) yang mengering di sebelah puncak bagian barat. Kemudian pada abad XII kawah di sebelah kirinya meletus pula, yang kemudian membentuk danau yang indah.
Tahun 1837, seorang Belanda peranakan Jerman bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) mengadakan perjalanan ke daerah Bandung Selatan. Ketika sampai di kawasan tersebut, Junghuhn merasakan suasana yang sangat sunyi dan sepi, tak seekor binatangpun yang melintasi daerah itu. Ia kemudian menanyakan masalah ini kepada masyarakat setempat, dan menurut masyarakat, kawasan Gunung Patuha sangat angker karena merupakan tempat bersemayamnya arwah para leluhur serta merupakan pusat kerajaan bangsa jin. Karenanya bila ada burung yang lancang berani terbang di atas kawasan tersebut, akan jatuh dan mati.
Meskipun demikian, orang Belanda yang satu ini tidak begitu percaya akan ucapan masyarakat. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya menembus hutan belantara di gunung itu untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi di kawasan tersebut.
Namun sebelum sampai di puncak gunung, Junghuhn tertegun menyaksikan pesona alam yang begitu indah di hadapannya, dimana terhampar sebuah danau yang cukup luas dengan air berwarna putih kehijauan. Dari dalam danau itu keluar semburan lava serta bau belerang yang menusuk hidung. Dan terjawablah sudah mengapa burung-burung tidak mau terbang melintasi kawasan tersebut.
Dari sinilah awal mula berdirinya pabrik belerang Kawah Putih dengan sebutan di jaman Belanda : Zwavel Ontgining Kawah Putih. Di jaman Jepang, usaha pabrik ini dilanjutkan dengan menggunakan sebutan Kawah Putih kenzanka Yokoya Ciwidey, dan langsung berada di bawah pengawasan militer. Cerita dan misteri tentang Kawah Putih terus berkembang dari satu generasi masyarakat ke generasi masyarakat berikutnya.
Hingga kini mereka masih percaya bahwa Kawah Putih merupakan tempat berkumpulnya roh para leluhur. Bahkan menurut kuncen Abah Karna yang sekarang berumur ± 105 tahun dan bertempat tinggal di Kampung Pasir Hoe, Desa Sugih Mukti; di Kawah putih terdapat makam para leluhur, diantaranya : Eyang Jaga Satru, Eyang Rangsa Sadana, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak Gunung Patuha, Puncak Kapuk, dipercaya sebagai tempat rapat para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Di tempat ini masyarakat sesekali melihat (secara gaib) sekumpulan domba berbulu putih (domba lukutan) yang dipercaya sebagai penjelmaan dari para leluhur. Alam pemandangan di sekitar Kawah Putih cukup indah; dengan air danau berwarna putih kehijauan, sangat kontras dengan batu kapur putih yang mengitari danau tersebut. Di sebelah utara danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna kelabu yang ditumbuhi lumut dan berbagai tumbuhan lainnya.
Perum Perhutani mengembangkan WW Kawah Putih sejak 1991. Fasilitas yang terdapat di WW Kawah Putih diantaranya Musholla, MCK, bangunan pusat informasi, areal mini zoo, tempat bermain anak-anak, kios dagang. Keadaan jalan pada umumnya baik dan beraspal sehingga dapat dicapai dengan kendaraan dua maupun roda empat. Jarak tempuh dari Bandung 47 km.

New Kuta Golf

on 31 October 2008




New Kuta Golf is awarded IGOLF Laureate Course from International Golf and and Life Foundation (IGOLF) --a Switzerland-based non profit foundation promoting environment prevention. New Kuta Golf is the first golf course in Indonesia received the certificate for its effort to rehabilitate critical karst land into an international golf course.
New Kuta Golf maintained four Pura (Hindu worship house), and build one new Pura in cooperation with local religious leaders. Most of the golf course workers are local residents.
New Kuta Golf, a member of the Intra Golflink Resort (IGR) will host the European Tour -Indonesia Open 2009.

New Kuta Golf Raih Sertifikat Laureate Course IGOLF

Lapangan golf pertama di Indonesia penerima sertifikat pelestarian lingkungan

Jakarta, 29 Oktober 2008 – New Kuta Golf salah satu lapangan golf dalam jaringan Intra Golflink Resorts (IGR) serta tuan rumah European Tour - Indonesia Open 2009, baru-baru ini mendapat anugerah sertifikat "IGOLF Laureate Course" dari International Golf and Life Foundation (IGOLF), sebuah lembaga nir-laba berbasis di Swiss dengan misi mempromosikan pelestarian lingkungan dan kepedulian sosial oleh lapangan-lapangan golf di seluruh dunia.

Suprapto Pegeng, direktur operasional IGR, mengatakan, "Kami merasa sangat bangga memperoleh pengakuan Internasional dalam hal pengelolaan lingkungan hidup dan masyarakat sekitar. Sertifikat 'Laureate Course' dari IGOLF merupakan bukti komitmen kami untuk menjadikan New Kuta Golf sebagai lapangan golf kelas dunia yang peduli terhadap pelestarian lingkungan dan juga memberdayakan masyarakat sekitar."

New Kuta Golf merupakan lapangan golf pertama di Indonesia yang menerima sertifikat 'Laureate Course' dari IGOLF dalam usahanya merehabilitasi lahan tidak produktif berupa kawasan bukit kapur yang gersang menjadi sebuah lapangan golf bertaraf Internasional, serta pemanfaatan cara-cara inovatif untuk memastikan bahwa air untuk pemeliharaan lapangan tidak menggunakan cadangan air tanah yang ada, tetapi dengan memanfaatkan air permukaan yang bersifat payau melalui proses desalinasi. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam proses desalinasi, New Kuta Golf merencanakan untuk memanfaatkan tenaga angin dan matahari sebagai pembangkit listrik.

Secara lengkap pengakuan IGOLF kepada New Kuta Golf diberikan atas usaha-usaha sebagai berikut:

•Pelestarian cadangan air tanah
Lapangan New Kuta Golf terletak di bagian pulau Bali yang sangat kering, untuk mengatasi hal tersebut telah dilakukan beberapa hal untuk memperkecil dampak terhadap persediaan cadangan air tanah. Lapangan New Kuta Golf juga ditanami rumput yang dapat bertahan hidup dengan menggunakan air asin dan payau.

•Pembangunan pembangkit listrik tenaga matahari dan angin
Untuk memenuhi kebutuhan listrik, New Kuta Golf akan membangun pembangkit listrik ramah lingkungan yang pada tahap awal dapat memproduksi 100.000 – 250.000 watt. Nantinya akan dikembangkan menjadi 30 mega Kva; baik untuk dipakai keperluan sendiri, dijual kepada pemerintah setempat dan untuk keperluan masyarakat sekitar dengan harga lebih rendah.

•Pelestarian Pura
New Kuta Golf telah melestarikan empat Pura dan membangun satu Pura baru dalam kawasan lapangan golf, bekerjasama secara erat dengan masyarakat dan pemuka agama setempat.

•Menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar secara optimal
Sebagian besar dari karyawan New Kuta Golf merupakan masyarakat sekitar. Jumlah seluruh karyawan saat ini mencapai 380 orang termasuk 100 diantaranya adalah caddy. Selain itu, perusahaan juga menyediakan asuransi kesehatan yang merupakan hal baru bagi para pekerja dari lingkungan setempat.

"IGOLF dengan gembira menyambut bergabungnya New Kuta Golf sebagai 'Laureate Course' pertama di Indonesia," kata Paul Sochaczewski, IGOLF chairman. "New Kuta Golf telah melakukan rehabilitasi lahan tidak produktif, serta langkah-langkah inovatif untuk memastikan bahwa air yang digunakan untuk pemeliharaan lapangan tidak menggunakan cadangan air tanah, tetapi air permukaan dan melalui proses desilinasi. New Kuta juga akan membangun pembangkit listrik tenaga matahari dan angin. Selain menyediakan lapangan kerja dan asuransi kesehatan bagi masyarakat sekitar yang bekerja di New Kuta Golf."

New Kuta Golf yang akan menjadi tuan rumah European Tour – Indonesia Open 2009 juga merupakan lapangan golf tipe Links pertama di Indonesia, hasil karya Ron Fream dari GolfPlan yang juga merupakan anggota IGOLF Council of Expert. Seperti kebanyakan lapangan golf tipe Links lainnya di dunia, New Kuta Golf juga berada di kawasan yang sangat dekat dengan pantai, kondisi tanah berpasir, beberapa bagian merupakan bukit pasir dengan kolam air namun jarang terdapat pepohonan. Hal ini mencerminkan kondisi dan pemandangan alam seperti aslinya, karena bentuk alami lahan tetap dipertahankan.

IGOLF adalah organisasi Internasional nir-laba, non-pemerintah berbasis di Swiss. IGOLF mempromosikan pelestarian lingkungan dan kepedulian sosial dalam industri golf di seluruh dunia, dengan fokus awal di kawasan Asia Tenggara.

SAFARI Goes to School

on 24 October 2008


Alman could not wait to go to school today. Since he woke up early in the morning he continued to ask his mother, whether or not the tiger and some other wild animals have come to his school. "Can I feed them Mom, can I touch them," he asked his mother.
At his school, TK Qurrota Aini Baitussalam in Bogor, West Java, the six-year old boy could not sit still. His eyes oftenly glimpsed at the street in front of his school.
"They are coming...they are coming." Alman shouted enthusiasticly when a white minivan with green stripes and a tiger-skin mark entered the school yard.
It's the team from Taman Safari Indonesia (TSI) --an ex-situ conservation center located at Cisarua in Bogor, West Java-- who came to the school for its wild life education program.
Few minutes later, a year-old Javanese tiger named Riko, get off from the car and walked calmly with his keeper, toward the kindergarten school children. Some children shouted in amusement.
Riko's keeper, Heri, asked the children to sit quietly. He began to give explanation --in a very simple language as he can-- to the children on where the tiger live and how he survive.
Heri has succesfully kept the children to sit quietly in about 45 minutes. After question and answer session, he asked the children to take a closer look to Riko and touch him.
"Touch him gently. Not at his mouth please," Heri told the children.
"In fact, we are planning to bring some birds here, but due to technical problems, we can only introduce Riko here," a spokesman of TSI, Yulius H Suprihardo said.
In its school visit, the TSI team usually brought wild animals such as tigers, birds, orangutan, or snake to share information with the children about the animals' life. The children would also be allowed to touch some of the animals.
Wild life education is one program in the ex-situ conservation center, in addition to research and recreation programs.
"We have main programs namely education, research and recreation," Yulius said.
The program is aimed at introducing wild animals to the children, especially animals from Indonesia. "We have a lot of wild animals around the country, and the children should know about them," he added.
The education program targeting school children from kindergarten, elementary to junior high school in Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi).
"In the future, we want to reach school in other regions such as Bandung. For schools in East Java and Bali, we have similar program run by our fellow in Prigen Safari Park (East Java) and in Denpasar (Bali)," he said.